Jumat, 31 Mei 2013
Kamis, 30 Mei 2013
Ketentuan dan Persyaratan Penerimaan Brigadir Polisi T.A. 2013
BRIGADIR POLISI T.A. 2013
1. Ketentuan penerimaan
a. Para caloln harus memberikan keterangan yang sebenarnya (bukan keterangan palsu dan/atau tidak benar) dalam rangka penerimaan Brigadir Polisi;
b. Para calon harus mengikuti dan melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan setiap tahapan seleksi dengan sungguh-sungguh dan tidak KKN (hindari masalah suap dan sponsor),
yang justru akan merugikan calon;
c. Dalam rangka pelaksanaan seleksi penerimaan Brigadir Polisi, tidak dipungut biaya;
d. Sebelum diangkat sebagai anggota Polri, calon yang telah lulus seleksi penerimaan dan
telah lulus pendidikan pembentukan Brigadir Polisi wajib mengucapkan sumpah atau
janji menurut agama dan kepercayaannya;
2. Persyaratan Umum
a. Warga Negara Indonesia;
b. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
d. Pendidikan paling rendah SMU atau yang sederajat;
e. Berumur paling rendah 18 tahun (pada saat dilantik menjadi anggota Polri);
f. Sehat jasmani dan rohani (surat keterangan sehat dari institusi kesehatan);
g. Tidak pernah dipidana karena melalukan suatu kejahatan (surat keterangan dari Polres setempat berupa SKCK);
h. Berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela; dan
i. Lulus pendidikan dan pelatihan pembentukan anggota Kepolisian.
3. Persyaratan lain
a. Berijazah serendah-rendahnya SMU/Madrasah Aliyah jurusan IPA/IPS atau SMK yang sesuai dengan kompetensi tugas pokok Polri (kecuali Tata Busana dan Tata Kecantikan) dengan Nilai Akhir (gabungan nilai UN dan nilai sekolah) minimal 6,5;
b. Umur pada saat pembukaan pendidikan pembentukan Brigadir Polisi T.A 2013, minimal 17 (tujuh belas) tahun 5 (lima) bulan dan maksimal 21 tahun;
c. Tinggi badan minimal (dengan berat badan seimbang menurut ketentuan yang berlaku):
- Pria : 163 (seratus enam puluh lima) cm;
- Wanita : 160 (seratus enam puluh) cm;
d. Belum pernah menikah dan sanggup tidak menikah selama dalam pendidikan Brigadir Polisi, ditambah 2 (dua) tahun setelah lulus;
e. Bersedia menjalani ikatan dinas minimal selama 10 (sepuluh) tahun, terhitung mulai saat diangkat menjadi Bripda;
f. Memperoleh persetujuan dari orang tua/wali bagi yang belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun (bukan paksaan orang tua);
g. Tidak terikat Perjanjian Ikatan Dinas dengan instansi lain;
h. Pada saat mendaftar telah berdomisili di wilayah Polda tempat pendaftaran minimal 1 (satu) tahun, yang dibuktikan dengan KTP atau Surat Keterangan dari Kepala Desa/Kelurahan setempat dan KK atau ijazah/STTB/rapor terakhir;
i. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan bersedia ditugaskan pada fungsi PHH Brimob dan Dalmas Sabhara Polri;
j. Mengikuti dan lulus pemeriksaan/pengujian dengan sistem gugur, yang meliputi materi dan urutan kegiatan sebagai berikut:
e. Bersedia menjalani ikatan dinas minimal selama 10 (sepuluh) tahun, terhitung mulai saat diangkat menjadi Bripda;
f. Memperoleh persetujuan dari orang tua/wali bagi yang belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun (bukan paksaan orang tua);
g. Tidak terikat Perjanjian Ikatan Dinas dengan instansi lain;
h. Pada saat mendaftar telah berdomisili di wilayah Polda tempat pendaftaran minimal 1 (satu) tahun, yang dibuktikan dengan KTP atau Surat Keterangan dari Kepala Desa/Kelurahan setempat dan KK atau ijazah/STTB/rapor terakhir;
i. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan bersedia ditugaskan pada fungsi PHH Brimob dan Dalmas Sabhara Polri;
j. Mengikuti dan lulus pemeriksaan/pengujian dengan sistem gugur, yang meliputi materi dan urutan kegiatan sebagai berikut:
- Pemeriksaan administrasi awal;
- Pemeriksaan kesehatan tahap I;
- Pemeriksaan dan pengujian psikologis;
- Pemeriksaan kesehatan tahap II (termasuk Keswa);
- Pengujian kesamaptaan jasmani;
- Pemeriksaan administrasi akhir;
- Pengujian akademik, yang meliputi:
a) Pengetahuan umum (materinya meliputi soal Undang-Undang Kepolisian, HAM, muatan lokal dan MIPA seperti teori/perhitungan fisika, kimia, dan matematika);
b) Bahasa Indonesia;
c) Bahasa Inggris;
b) Bahasa Indonesia;
c) Bahasa Inggris;
Sidang terbuka penentuan kelulusan akhir.
Banyak pertanyaan mengenai persyaratan administrasi Pendaftaran Birgpol, berikut kami informasikan....
PERSYARATAN ADMINISTRASI :
- Asli dan copy KTP serta KK sesuai Domisili wilayah hukum Polda pendaftaran.
- Asli dan copy Akte Kelahiran / surat kenal lahir.
- Asli dan copy semua Ijazah yang dimiliki serta Rapor SMU / SMK.
- Asli SKCK
- Asli surat Kesehatan dari puskesmas Setempat.
- Pas Foto Berwarna ukuran 3 x 4 sebanyak 6 lembar dan 4 x 6 sebanyak 12 lembar.
Sifat-Sifat Allah
Sifat-sifat Allah
| No | Sifat Wajib | Sifat Mustahil | ||
|---|---|---|---|---|
| 1 | Wujud | Ada | Adam | Tidak ada |
| 2 | Qidam | Dahulu | Huduus | Baru |
| 3 | Baqa’ | Kekal | Fana | Rusak |
| 4 | Mukhalafatuhu lil hawadits | Berbeda dengan ciptaan-Nya | Mumatsalatuhu lil hawadits | Sama dengan ciptaan-Nya |
| 5 | Qiyamuhu binafsihi | Berdiri dengan sendirinya | Ihtiyaju lighairihi | Membutuhkan yang lain |
| 6 | Wahdaniyyah | Esa atau Tunggal | Ta’addud | Berbilang |
| 7 | Qudrah | Berkuasa | ‘Ajzun | Lemah |
| 8 | Iradah | Berkehendak | Karahah | Terpaksa |
| 9 | Ilmu | Mengetahui | Jahlun | Bodoh |
| 10 | Hayat | Hidup | Mautun | Mati |
| 11 | Sam’un | Mendengar | Samamum | Tuli |
| 12 | Basar | Melihat | Umyun | Buta |
| 13 | Kalam | Berkata | Bukmun | Bisu |
| 14 | Qadirun | Yang Berkuasa | ‘Ajizun | Yang maha lemah |
| 15 | Muridun | Yang Berkehendak | Mukrahun | Yang maha terpaksa |
| 16 | ‘Alimun | Yang Mengetahui | Jahilun | Yang maha bodoh |
| 17 | Hayyun | Yang Hidup | Mayyitun | Yang mati |
| 18 | Sami’un | Yang Mendengar | Ashamma | Yang maha tuli |
| 19 | Basirun | Yang Melihat | A’maa | Yang maha buta |
| 20 | Mutakallimun | Yang Berbicara | Abkama | Yang maha bisu |
- Wujud, artinya ada. Sifat mustahilnya ‘Adam, artinya tidak ada.Tidak mudah untuk membuktikan bahwa ALLAH itu ada, kecuali bagi orang-orang yang beriman.
Memang kita tidak dapat melihat wujud ALLAH secara langsung, tetapi dengan menggunakan akal, kita dapat menyaksikan ciptaan-Nya. Alam semesta ini. Darimana alam semesta ini berasal? Pastilah ada yang menciptakannya. Siapakah Dia yang Maha Agung itu?
Dialah ALLAH SWT (Maha Suci dan Maha Tinggi). Dialah yang mengadakan segala sesuatu dan Dia pulalah yang menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk diri kita.Sesungguhnya Rabb kamu ialah ALLAH yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak ALLAH. Maha suci ALLAH, Rabb semesta alam. (QS. Al-A’râf: 54) - Qidam, artinya dahulu atau awal. Sifat mustahilnya Hudûs, artinya baru.Maksudnya, adanya ALLAH adalah yang paling awal sebelum adanya alam semesta ini. Adanya ALLAH berbeda dengan adanya alam semesta beserta isinya. Perbedaan tsb terdapat pada kejadian dan prosesnya.
Kita ambil contoh: Adanya hujan didahului oleh terjadinya penguapan air laut.
Terjadinya pemuaian logam didahului oleh adanya panas.
Berbeda dengan alam semesta ini, adanya ALLAH tidak didahului oleh sebab-sebab tertentu, karena ALLAH zat yang paling awal. ALLAH adalah pencipta alam semesta, tidak mungkin hasil ciptaan lebih dulu ada dari Sang Penciptanya.Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadîd: 3) - Baqa’, artinya kekal. Sifat mustahilnya Fana, artinya rusak.Semua makhluk yang ada di alam semesta ini, baik itu manusia, binatang, tumbuhan, planet, bintang, bulan, dll, suatu saat akan mengalami kerusakan dan akhirnya mengalami kehancuran. Manusia, betapa pun gagah perkasa dirinya, suatu saat pasti mati.
Apapun wujudnya, seluruh ciptaan ALLAH di dunia ini akan mengalami kerusakan. Hanya ALLAH SWT, Sang Pencipta, yang tidak akan rusak dan hancur, karena ALLAH bersifat kekal.Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar-Rahmân: 26-27)Sungguh, betapa hina dan lemahnya kita di hadapan ALLAH, betapa tidak patutnya kita berbangga diri dengan kehebatan kita, karena segala kehebatan itu hanyalah sementara. Kelak semua akan berakhir, yang tersisa hanyalah amalan kita. Oleh sebab itu perbanyaklah amal selagi kita masih diberi kelapangan waktu di dunia ini. Dan bertaubatlah dengan kesalahan-kesalahan kita selagi kematian belum menghampiri kita. - Mukhalafatuhu lil hawadits, artinya berbeda dengan ciptaannya. Sifat mustahilnya Mumatsalatuhu lil hawadits, artinya serupa dengan ciptaannya.Sifat ini menjelaskan bahwa ALLAH berbeda dengan hasil ciptaan-Nya.
Coba kita gunakan analogi, pelukis dengan lukisannya, pembuat patung dengan patung karyanya, apakah ada kesamaan antara pencipta dengan hasil ciptaannya? tentu tidak bukan? Bahkan robot yang paling canggih dan mirip dengan manusia sekalipun tidak akan sama dengan manusia penciptanya.
Begitulah ALLAH, Sang Pencipta, sudah pasti berbeda dengan ciptaan-Nya.… Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syûra: 11)Dengan memahami sifat ALLAH ini, semoga kita tidak akan terjebak pada perbuatan takhyul dan syirik, yaitu menyembah selain ALLAH atau menyekutukan ALLAH. Tak ada suatu pun selain ALLAH yang pantas disembah. Menyembah selain ALLAH adalah perbuatan yang hina dan merendahkan martabat manusia sendiri. - Qiyamuhu binafsihi, artinya berdiri sendiri tanpa membutuhkan bantuan yang lain. Sifat mustahilnya Ihtiyaju lighairihi, artinya berdiri dengan bantuan yang lain.Keberadaan makhluk ALLAH, tidak lepas dari bantuan yang lain. Manusia lahir karena ada kedua orangtuanya, tumbuh dan berkembang karena dipelihara dan dirawat oleh orangtuanya. Bahkan setelah besar pun, manusia tetap tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.ALLAH, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. (QS. Ali-Imran: 2)Sadarlah kita, bahwa ternyata kita ini makhluk yang sangat lemah, karena tidak mampu hidup tanpa bantuan orang lain. Semoga kita pun menyadari pentingnya berbuat kebajikan dengan sesama. Karena itu sungguh tepat jika ALLAH memerintahkan kita untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa.… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Mâidah: 2)
- Wahdaniyyah, artinya esa atau tunggal. Sifat mustahilnya Ta’addud, artinya berbilang atau lebih dari satu.Keesaan ALLAH itu mutlak. Artinya keesaan ALLAH meliputi zat, sifat, maupun perbuatan-Nya.
Meyakini keesaan ALLAH, merupakan hal yang sangat prinsipil, sehingga seseorang dianggap muslim atau tidak, tergantung pada pengakuan tentang keesaan ALLAH. Ini bisa kita lihat bahwa untuk menjadi seorang muslim, seseorang harus bersaksi terhadap keesaan ALLAH, yaitu dengan membaca syahadat tauhid yang berbunyi Aku bersaksi tiada Tuhan selain ALLAH. Meyakini keesaan ALLAH juga merupakan inti ajaran para nabi, sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW.Mustahil ALLAH lebih dari satu. Apabila itu terjadi, tentulah tidak akan tercipta alam semesta yang teratur ini. Keteraturan alam semesta telah membuktikan pada kita bahwa ALLAH itu Tunggal.Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain ALLAH, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Maha Suci ALLAH yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (QS. Al-Anbiyâ: 22)Dengan menghayati sifat wahdaniyyah ini, kita akan terhindar dari berbagai paham ketuhanan. Ada 2 macam paham ketuhanan, yaitu monoteisme dan politeisme. Monoteisme menyatakan bahwa Tuhan adalah satu, sedang politeisme menyatakan bahwa tuhan lebih dari satu. Agama-agama yang memiliki kepercayaan banyak dewa dan dewi yang mengatur alam semesta ini, adalah salah satu contoh paham politeisme.
Islam adalah agama yang mengakui paham monoteisme secara mutlak. Tuhan dalam Islam hanyalah ALLAH, Pencipta dan Pengatur Alam Raya beserta isinya. - Qudrah, artinya berkuasa. Sifat mustahilnya ‘Ajzun, artinya lemah.Kekuasaan ALLAH adalah kekuasaan yang sempurna, karena kekuasaan ALLAH tidak terbatas. Hal ini tentu berbeda dengan manusia yang mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Bagi ALLAH, jika ALLAH telah berkehendak melakukan atau tidak melakukan sesuatu, maka tidak ada suatu pun yang dapat menghalangi-Nya.… Sesungguhnya ALLAH berkuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 20)Sungguh tidak patut kita sebagai manusia bersifat sombong dengan kekuasaan yang kita miliki, karena sebesar apa pun kekuasaan kita, kekuasaan ALLAH pasti lebih besar, dan yang Terbesar. Jika ALLAH berkehendak, Dia dapat menghilangkan kekuasaan kita dalam sekejap, dan kita tak akan berdaya untuk mempertahankannya.
- Iradah, artinya berkehendak. Sifat mustahilnya Karahah, artinya terpaksa.ALLAH memiliki sifat selalu berkehendak. Kehendak ALLAH sesuai kemauan ALLAH sendiri, tak ada rasa terpaksa atau dipaksa oleh pihak lain. Kehendak ALLAH juga tidak dipengaruhi oleh pihak lain. Kehendak ALLAH tidak terbatas, karena Ia dapat melakukan apa saja tanpa ada kuasa lain yang dapat mencegah-Nya.
Manusia juga berkehendak, tapi kehendak manusia adalah terbatas pada kemampuannya sendiri.- Manusia boleh berkehendak, namun ALLAH jualah yang menentukan hasilnya.
- Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.
- Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga.
- Di atas langit masih ada langit.
Ungkapan-ungkapan di atas menunjukkan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedang ALLAH memiliki segala kehendak yang tidak terbatas. Meskipun demikian, ALLAH memberi kebebasan pada manusia untuk berusaha dan berkehendak, namun semua terpulang pada kehendak ALLAH dan kita harus berserah diri menerima apapun hasilnya. - Ilmu, artinya mengetahui. Sifat mustahilnya Jahlun, artinya bodoh.Segala yang ada di alam raya ini, baik yang besar maupun yang kecil, yang terlihat maupun yang tersembunyi, tidak ada yang luput dari pengetahuan ALLAH. ALLAH Maha Luas ilmunya, begitu luasnya ilmu ALLAH sehingga jika seluruh air di lautan ini dijadikan tinta dan seluruh pohon dijadikan alat tulisnya, tak akan mampu menuliskan ilmu ALLAH.Kita sering kagum atas kecerdasan dan ilmu yang dimiliki orang-orang pintar di dunia ini. Kita takjub akan indahnya karya dan canggihnya teknologi yang diciptakan manusia.
Sadarkah kita, bahwa ilmu yang kita saksikan itu hanyalah sebagian kecil saja yang diberikan ALLAH pada otak kita?Sungguh, ilmu ALLAH jauh melampaui semua itu, begitu tingginya ilmu ALLAH sehingga terkadang kita tak mampu untuk mengikuti dan memahaminya.Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu akan memberitahukan kepada ALLAH tentang agamamu (keyakinanmu), padahal ALLAH mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan ALLAH Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. Al-Hujurât: 16)Semoga dengan memahami sifat ilmu ini, kita sebagai hamba akan terdorong untuk terus menimba ilmu, selagi kita hidup, karena kita sadar bahwa sebanyak apapun ilmu yang telah kita ketahui, masih lebih banyak lagi ilmu yang belum kita diketahui. Semakin banyak ilmu kita, mudah-mudahan juga menambah rasa kagum dan syukur kita kepada ALLAH. Betapa hebatnya Ia, betapa tinggi ilmu-Nya, dan betapa kepandaian kita ini belum apa-apa dibandingkan dengan kepandaian ALLAH. - Hayat, artinya hidup. Sifat mustahilnya Mautun, artinya mati.Hidupnya ALLAH berbeda dengan hidupnya manusia. Perbedaan itu antara lain dapat kita lihat bahwa ALLAH hidup tanpa ada yang menghidupkan. Manusia dan makhluk hidup lain hidup karena dihidupkan oleh ALLAH SWT.
ALLAH hidup tidak bergantung dengan yang lain, sedang manusia hidupnya sangat bergantung dengan yang lain.
ALLAH hidup selama-lamanya, tidak mengalami kematian, bahkan mengantuk pun tidak. Manusia suatu saat pasti akan mengalami mati.ALLAH tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur… Al-Baqarah: 255ALLAH Maha Hidup, tidak mengantuk, tidak tidur, apalagi mati. Dan selama itu pula ALLAH selalu mengurus dan mengawasi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Oleh sebab itu hendaknya kita selalu berhati-hati dalam segala tindakan, karena gerak-gerik kita selalu diawasi dan dicatat oleh ALLAH, tak ada yang terlewatkan. Kelak di akhirat seluruh amalan tsb harus kita pertanggungjawabkan. - Sam’un, artinya mendengar. Sifat mustahilnya Samamum, artinya tuli.ALLAH Maha Mendengar. Pendengaran ALLAH tidak terbatas dan tidak terhalang oleh jarak, ruang, dan waktu. Selemah apa pun suara, ALLAH mendengarnya. Berbeda dengan manusia, pendengarannya sangat terbatas. Meski saat ini teknologi manusia sudah maju, untuk mendengar suara jarak jauh sudah bisa diatasi dengan media elektronik, namun jangkauannya tetap masih terbatas. Suara bisikan, suara yang terhalang oleh benda-benda tertentu, tetap tidak bisa kita dengarkan. Pendengaran manusia juga mengalami penurunan seiring dengan semakin tuanya kita.Tapi pendengaran ALLAH tidak demikian. ALLAH bisa mendengar suara yang sehalus apapun tanpa memerlukan alat bantu apapun. Pendengaran ALLAH tidak akan melemah sampai kapanpun.…Dan ALLAH-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Mâidah: 76)Dengan menyadari sifat sam’un ALLAH ini, semestinyalah kita senantiasa bertingkah laku, bersikap, berbicara, dan berpikir dengan bahasa yang santun dan mengeluarkan ucapan-ucapan yang baik lagi bermanfaat. Karena ALLAH selalu mendengar segala perkataan manusia, baik yang terucap maupun hanya sekedar bisikan di dalam hati.
- Basar, artinya melihat. Sifat mustahilnya ‘Ama, artinya buta.Mustahil ALLAH buta, karena ALLAH Maha sempurna, termasuk sempurna penglihatan-Nya. Penglihatan ALLAH bersifat mutlak, tidak terhalang oleh apa pun. ALLAH melihat segala sesuatu, baik yang besar dan kecil, yang nampak dan tersembunyi. Penglihatan ALLAH bersifat terus-menerus, ALLAH tidak pernah lalai walau sedetik pun dari melihat segala perbuatan kita.Sesungguhnya ALLAH mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hujurât: 18)Dengan memahami sifat basar ALLAH ini, hendaknya kita selalu berhati-hati dalam berbuat. Kita sadar bahwa kita tidak bisa membohongi atau menyembunyikan kebohongan apa pun di hadapan ALLAH. Kepada manusia kita bisa berbohong, tapi tidak terhadap ALLAH, karena ALLAH melihat segala perbuatan kita.
Kelak di kemudian hari akan ditampakkan segala perbuatan dan kebohongan yang kita sembunyikan. Oleh sebab itu berbuat baiklah selalu, supaya kita tidak perlu merasa takut dan cemas jika suatu saat seluruh perbuatan kita akan disaksikan dan dimintakan pertanggujawabannya. - Kalam, artinya berkata atau berfirman. Sifat mustahilnya Bukmum, artinya bisu.Bukti ALLAH bersifat kalam dapat kita lihat dari kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada para nabi dan rasul-Nya.
Al-Quran yang sering kita baca dan kita lafadzkan setiap hari, adalah firman ALLAH yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.…Dan ALLAH telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS. An-Nisâ: 164)Adanya firman ALLAH menjadi bukti bagi kita bahwa ALLAH memperhatikan kita sebagai hamba-Nya. Dengan perantara nabi dan rasul, ALLAH membimbing manusia untuk melakukan amal saleh sesuai yang diajarkan dalam kitab ALLAH.
Dari firman ALLAH juga, kita dapat mengetahui sejarah dan kisah umat-umat terdahulu, sehingga kita dapat mengambil hikmah, mengikuti yang haq dan meninggalkan yang bathil.
Rabu, 29 Mei 2013
Asmaul Husna
Asmaul Husna
ALLAH memiliki nama-nama yang baik yang disebut dengan Asmaul Husna.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa al-Asma al-Husna ini jumlahnya ada 99, karena ALLAH menyukai bilangan yang ganjil.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa al-Asma al-Husna ini jumlahnya ada 99, karena ALLAH menyukai bilangan yang ganjil.
Sesungguhnya ALLAH mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sembilan puluh sembilan nama tsb menggambarkan betapa baiknya ALLAH. Nama-nama dalam Asmaul Husna ini, ALLAH sendirilah yang menciptakannya.
Dia-lah ALLAH yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang Membentuk Rupa, yang Mempunyai Nama-Nama yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr: 24)
Sebutlah nama-nama ALLAH, dalam setiap zikir dan doa kita. Jika kita memohon diberi petunjuk, sebutlah namaAl-Hâdi (Maha Pemberi Petunjuk). Jika kita mohon diberi sifat kasih sayang, sebutlah nama Ar-Rahmân (Maha Pengasih). Semoga doa kita akan semakin makbul.
Anjuran untuk menggunakan Asmaul Husna dalam berzikir dan berdoa, diterangkan oleh ALLAH SWT dalam Al-Quran.
Anjuran untuk menggunakan Asmaul Husna dalam berzikir dan berdoa, diterangkan oleh ALLAH SWT dalam Al-Quran.
Hanya milik ALLAH asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.(QS. Al-A’râf: 180)
Asmaul Husna hanya milik ALLAH SWT. Manusia sebagai makhluk-Nya hanya dapat memahami, mempelajari, dan meniru kandungan makna dari nama yang baik tsb dalam kehidupan sehari-hari.
| No | Nama | Arti | Antara lain terdapat dalam |
|---|---|---|---|
| 1 | ar-Rahmaan | Yang Maha Pemurah | Al-Faatihah: 3 |
| 2 | ar-Rahiim | Yang Maha Pengasih | Al-Faatihah: 3 |
| 3 | al-Malik | Maha Raja | Al-Mu’minuun: 11 |
| 4 | al-Qudduus | Maha Suci | Al-Jumu’ah: 1 |
| 5 | as-Salaam | Maha Sejahtera | Al-Hasyr: 23 |
| 6 | al-Mu’min | Yang Maha Terpercaya | Al-Hasyr: 23 |
| 7 | al-Muhaimin | Yang Maha Memelihara | Al-Hasyr: 23 |
| 8 | al-’Aziiz | Yang Maha Perkasa | Aali ‘Imran: 62 |
| 9 | al-Jabbaar | Yang Kehendaknya Tidak Dapat Diingkari | Al-Hasyr: 23 |
| 10 | al-Mutakabbir | Yang Memiliki Kebesaran | Al-Hasyr: 23 |
| 11 | al-Khaaliq | Yang Maha Pencipta | Ar-Ra’d: 16 |
| 12 | al-Baari’ | Yang Mengadakan dari Tiada | Al-Hasyr: 24 |
| 13 | al-Mushawwir | Yang Membuat Bentuk | Al-Hasyr: 24 |
| 14 | al-Ghaffaar | Yang Maha Pengampun | Al-Baqarah: 235 |
| 15 | al-Qahhaar | Yang Maha Perkasa | Ar-Ra’d: 16 |
| 16 | al-Wahhaab | Yang Maha Pemberi | Aali ‘Imran: 8 |
| 17 | ar-Razzaq | Yang Maha Pemberi Rezki | Adz-Dzaariyaat: 58 |
| 18 | al-Fattaah | Yang Maha Membuka (Hati) | Sabaa’: 26 |
| 19 | al-’Aliim | Yang Maha Mengetahui | Al-Baqarah: 29 |
| 20 | al-Qaabidh | Yang Maha Pengendali | Al-Baqarah: 245 |
| 21 | al-Baasith | Yang Maha Melapangkan | Ar-Ra’d: 26 |
| 22 | al-Khaafidh | Yang Merendahkan | Hadits at-Tirmizi |
| 23 | ar-Raafi’ | Yang Meninggikan | Al-An’aam: 83 |
| 24 | al-Mu’izz | Yang Maha Terhormat | Aali ‘Imran: 26 |
| 25 | al-Mudzdzill | Yang Maha Menghinakan | Aali ‘Imran: 26 |
| 26 | as-Samii’ | Yang Maha Mendengar | Al-Israa’: 1 |
| 27 | al-Bashiir | Yang Maha Melihat | Al-Hadiid: 4 |
| 28 | al-Hakam | Yang Memutuskan Hukum | Al-Mu’min: 48 |
| 29 | al-’Adl | Yang Maha Adil | Al-An’aam: 115 |
| 30 | al-Lathiif | Yang Maha Lembut | Al-Mulk: 14 |
| 31 | al-Khabiir | Yang Maha Mengetahui | Al-An’aam: 18 |
| 32 | al-Haliim | Yang Maha Penyantun | Al-Baqarah: 235 |
| 33 | al-’Azhiim | Yang Maha Agung | Asy-Syuura: 4 |
| 34 | al-Ghafuur | Yang Maha Pengampun | Aali ‘Imran: 89 |
| 35 | asy-Syakuur | Yang Menerima Syukur | Faathir: 30 |
| 36 | al-’Aliyy | Yang Maha Tinggi | An-Nisaa’: 34 |
| 37 | al-Kabiir | Yang Maha Besar | Ar-Ra’d: 9 |
| 38 | al-Hafiizh | Yang Maha Penjaga | Huud: 57 |
| 39 | al-Muqiit | Yang Maha Pemelihara | An-Nisaa’: 85 |
| 40 | al-Hasiib | Yang Maha Pembuat Perhitungan | An-Nisaa’: 6 |
| 41 | al-Jaliil | Yang Maha Luhur | Ar-Rahmaan: 27 |
| 42 | al-Kariim | Yang Maha Mulia | An-Naml: 40 |
| 43 | ar-Raqiib | Yang Maha Mengawasi | Al-Ahzaab: 52 |
| 44 | al-Mujiib | Yang Maha Mengabulkan | Huud: 61 |
| 45 | al-Waasi’ | Yang Maha Luas | Al-Baqarah: 268 |
| 46 | al-Hakiim | Yang Maha Bijaksana | Al-An’aam: 18 |
| 47 | al-Waduud | Yang Maha Mengasihi | Al-Buruuj: 14 |
| 48 | al-Majiid | Yang Maha Mulia | Al-Buruuj: 15 |
| 49 | al-Baa’its | Yang Membangkitkan | Yaasiin: 52 |
| 50 | asy-Syahiid | Yang Maha Menyaksikan | Al-Maaidah: 117 |
| 51 | al-Haqq | Yang Maha Benar | Thaahaa: 114 |
| 52 | al-Wakiil | Yang Maha Pemelihara | Al-An’aam: 102 |
| 53 | al-Qawiyy | Yang Maha Kuat | Al-Anfaal: 52 |
| 54 | al-Matiin | Yang Maha Kokoh | Adz-Dzaariyaat: 58 |
| 55 | al-Waliyy | Yang Maha Melindungi | An-Nisaa’: 45 |
| 56 | al-Hamiid | Yang Maha Terpuji | An-Nisaa’: 131 |
| 57 | al-Muhshi | Yang Maha Menghitung | Maryam: 94 |
| 58 | al-Mubdi’ | Yang Maha Memulai | Al-Buruuj: 13 |
| 59 | al-Mu’id | Yang Maha Mengembalikan | Ar-Ruum: 27 |
| 60 | al-Muhyi | Yang Maha Menghidupkan | Ar-Ruum: 50 |
| 61 | al-Mumiit | Yang Maha Mematikan | Al-Mu’min: 68 |
| 62 | al-Hayy | Yang Maha Hidup | Thaahaa: 111 |
| 63 | al-Qayyuum | Yang Maha Mandiri | Thaahaa: 11 |
| 64 | al-Waajid | Yang Maha Menemukan | Adh-Dhuhaa: 6-8 |
| 65 | al-Maajid | Yang Maha Mulia | Huud: 73 |
| 66 | al-Waahid | Yang Maha Tunggal | Al-Baqarah: 133 |
| 67 | al-Ahad | Yang Maha Esa | Al-Ikhlaas: 1 |
| 68 | ash-Shamad | Yang Maha Dibutuhkan | Al-Ikhlaas: 2 |
| 69 | al-Qaadir | Yang Maha Kuat | Al-Baqarah: 20 |
| 70 | al-Muqtadir | Yang Maha Berkuasa | Al-Qamar: 42 |
| 71 | al-Muqqadim | Yang Maha Mendahulukan | Qaaf: 28 |
| 72 | al-Mu’akhkhir | Yang Maha Mengakhirkan | Ibraahiim: 42 |
| 73 | al-Awwal | Yang Maha Permulaan | Al-Hadiid: 3 |
| 74 | al-Aakhir | Yang Maha Akhir | Al-Hadiid: 3 |
| 75 | azh-Zhaahir | Yang Maha Nyata | Al-Hadiid: 3 |
| 76 | al-Baathin | Yang Maha Gaib | Al-Hadiid: 3 |
| 77 | al-Waalii | Yang Maha Memerintah | Ar-Ra’d: 11 |
| 78 | al-Muta’aalii | Yang Maha Tinggi | Ar-Ra’d: 9 |
| 79 | al-Barr | Yang Maha Dermawan | Ath-Thuur: 28 |
| 80 | at-Tawwaab | Yang Maha Penerima Taubat | An-Nisaa’: 16 |
| 81 | al-Muntaqim | Yang Maha Penyiksa | As-Sajdah: 22 |
| 82 | al-’Afuww | Yang Maha Pemaaf | An-Nisaa’: 99 |
| 83 | ar-Ra’uuf | Yang Maha Pengasih | Al-Baqarah: 207 |
| 84 | Maalik al-Mulk | Yang Mempunyai Kerajaan | Aali ‘Imran: 26 |
| 85 | Zuljalaal wa al-’Ikraam | Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan | Ar-Rahmaan: 27 |
| 86 | al-Muqsith | Yang Maha Adil | An-Nuur: 47 |
| 87 | al-Jaami’ | Yang Maha Pengumpul | Sabaa’: 26 |
| 88 | al-Ghaniyy | Yang Maha Kaya | Al-Baqarah: 267 |
| 89 | al-Mughnii | Yang Maha Mencukupi | An-Najm: 48 |
| 90 | al-Maani’ | Yang Maha Mencegah | Hadits at-Tirmizi |
| 91 | adh-Dhaarr | Yang Maha Pemberi Derita | Al-An’aam: 17 |
| 92 | an-Naafi’ | Yang Maha Pemberi Manfaat | Al-Fath: 11 |
| 93 | an-Nuur | Yang Maha Bercahaya | An-Nuur: 35 |
| 94 | al-Haadii | Yang Maha Pemberi Petunjuk | Al-Hajj: 54 |
| 95 | al-Badii’ | Yang Maha Pencipta | Al-Baqarah: 117 |
| 96 | al-Baaqii | Yang Maha Kekal | Thaahaa: 73 |
| 97 | al-Waarits | Yang Maha Mewarisi | Al-Hijr: 23 |
| 98 | ar-Rasyiid | Yang Maha Pandai | Al-Jin: 10 |
| 99 | ash-Shabuur | Yang Maha Sabar | Hadits at-Tirmizi |
Langganan:
Postingan (Atom)